Loading...

Menciptakan SDM Unggul Jakarta Menuju Kota Global

24-09-2026

Ultha Rifqy Riswanta

banner

Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode penting dalam perkembangan dan pertumbuhan untuk kehidupan individu yang bersifat permanen. Periode ini dihitung sejak pembentukan janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Fase kritis inilah fondasi biologis manusia dibangun secara masif seperti 80 persen perkembangan kapasitas otak terjadi, organ-organ vital terbentuk, dan sistem kekebalan tubuh diprogram untuk jangka panjang. Jumlah dan kualitas asupan gizi sangat menentukan kualitas fondasi biologis yang dibangun. Kekurangan gizi serta buruknya kualitas asupan gizi yang diberikan ditambah dengan paparan infeksi yang terjadi pada rentang waktu ini dapat memicu gangguan pertumbuhan seorang anak baik fisik seperti stunting dan wasting maupun kognitif. 

Selama periode kritis ini anemia pada ibu hamil juga merupakan salah satu penyebab bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Bayi BBLR sangat rentan mengalami wasting akibat imunitas yang lemah. Jika gangguan gizi akut ini dibiarkan tanpa penanganan tepat, dampaknya akan terakumulasi menjadi stunting kronis yang merusak potensi kognitif anak secara permanen. Dampak buruknya beruntun hingga dewasa menurunkan produktivitas kerja, meningkatkan risiko penyakit tidak menular, dan pada akhirnya merusak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Dalam kerangka pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) ketiga indikator tersebut perlu dilakukan pemantauan sebagai langkah untuk menyusun strategi pembentukan generasi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam hal ini, keberhasilan diukur melalui tiga indikator gizi dan kesehatan yang saling berkaitan erat meliputi Prevalensi anemia pada ibu hamil usia 15–49 tahun (intervensi hulu); Prevalensi wasting (kurus/sangat kurus) pada balita (masalah gizi akut), serta Prevalensi stunting (sangat pendek) pada balita (dampak gizi kronis). Ketiga indikator ini membentuk satu rantai siklus hidup (life-cycle approach).

Gambar 1. Kondisi prevalensi stunting dan wasting pada balita serta prevalensi anemia pada ibu hamil usia 15-49 tahun di Provinsi DKI Jakarta (Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 2026)

Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan keberhasilan intervensi di tingkat hulu, terlihat dari tren prevalensi anemia pada ibu hamil (15–49 tahun) yang terus menunjukkan penurunan signifikan secara konsisten, dari 6,12 persen di tahun 2022 menjadi 3,3 persen pada tahun 2025. Penurunan bertahap ini menjadi bukti bahwa intervensi pencegahan awal seperti skrining kesehatan, pendistribusian tablet penambah darah, dan edukasi gizi di tingkat puskesmas berjalan efektif. Namun, tantangan di tingkat hilir masih memerlukan perhatian ekstra. Setelah sempat melonjak pada tahun 2023, angka prevalensi stunting (17,2%) dan wasting (7,4%) yang diukur dua tahun sekali ini, berhasil menunjukkan penurunan dari periode sebelumnya sejak tahun 2024 yaitu menjadi sebesar 17,2% atau mengalami penurunan 0,4% untuk angka prevalensi stunting dan menunjukkan penurunan prevalensi wasting ke angka 7,4% atau mengalami penurunan sebesar 2,7%.

Sebagai bentuk komitmen nyata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan, berbagai inovasi kesehatan digalakkan secara terintegrasi dari hulu di seluruh wilayah, baik daratan maupun pesisir. Di daratan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Puskesmas Kecamatan Pademangan menghadirkan program BUNGA DESA untuk memangkas angka kehamilan remaja dan mencegah anemia lewat pendampingan psikososial (KENANGA), platform edukasi digital (DAHLIA & TERATAI), serta praktik gizi seimbang yang sukses meningkatkan pemahaman peserta hingga 100 persen. Sementara di wilayah kepulauan, kolaborasi RSUD Kepulauan Seribu dan Tim DASHAT di Pulau Panggang secara aktif mendampingi ibu hamil berisiko stunting melalui edukasi kepatuhan pemeriksaan kehamilan (antenatal care), konsumsi Tablet Penambah Darah (TTD), hingga pemanfaatan pangan lokal kaya protein. Langkah inklusif ini menjadi bukti bahwa pembentukan SDM Jakarta yang unggul, sehat, dan berdaya saing global diawali dengan investasi kesehatan serta perlindungan gizi ibu hamil di tingkat akar rumput.