Opini

Jakarta, Kota Ramah Investasi

Abra Talattov

Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi, - Sekretariat SDGs Provinsi DKI Jakarta

 

 

Optimisme pemulihan ekonomi Jakarta semakin menguat seiring dengan terkendalinya pandemi Covid-19 yang tercermin dengan penurunan kasus positif harian dari titik puncak 14.619 kasus pada 12 Juli 2021 menjadi 83 kasus per 1 November 2021.  Selain itu, program vaksinasi Covid-19 di Jakarta per 2 November 2021 juga telah mencapai 122% untuk dosis pertama dan 94,2% untuk dosis kedua. Dengan parameter yang terus membaik tersebut kini Provinsi DKI Jakarta dapat menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1.

 

Dengan status PPKM Level 1 tersebut artinya potensi pemulihan ekonomi di Jakarta semakin besar sejalan dengan pelonggaran pembatasan masyarakat seperti aktivitas bekerja dari kantor (WFO) yang diizinkan dengan kapasitas 75%. Lalu pusat perbelanjaan, sektor pasar modal dan teknologi informasi, serta hotel juga kini boleh beroperasi hingga kapasitas 100%. Dengan relaksasi tersebut maka diharapkan akan mendorong konsumsi masyarakat yang juga akan mengerek naik sisi produksi.

 

Eksptektasi pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik di Jakarta juga diperkuat dengan realisasi pertumbuhan PDRB Jakarta pada Triwulan II - 2021 yang berhasil menyentuh 10,91%. Bangkitnya perekonomian Jakarta juga menjadi parameter pulihnya ekonomi Indonesia mengingat kontribusi ekonomi Jakarta terhadap PDB nasional merupakan yang terbesar mencapai 17,6% dalam lima tahun terakhir. Di samping itu, kinerja perekonomian Jakarta juga tercermin dari rata-rata pertumbuhan PDRB sebesar 5,98% dalam  lima tahun terakhir, di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional 5,03%. Potret tersebut memperlihatkan bahwa Jakarta masih menjadi tumpuan perekonomian nasional.

 

 

 Tren Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta dan Indonesia

           




Sumber: Bank Indonesia, 2021

 

Seiring menguatnya kecepatan roda perekonomian Jakarta, momentum menarik investasi yang lebih masif juga semakin terbuka lebar. Peran investasi dalam pembangunan di Jakarta sangat besar mengingat investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) merupakan kontributor terbesar kedua terhadap pembentukan PDRB Jakarta mencapai 35% pada tahun 2020. Meskipun pertumbuhan investasi Jakarta pada tahun 2020 turut terdampak pandemi sehingga mengalami kontraksi hingga 6,95%, tetapi kini kinerja investasi di Jakarta sudah memperlihatkan tren pemulihan yaitu tumbuh 5,36% pada Triwulan II 2021.

 

Sinyal meningkatnya antusiasme investor di DKI Jakarta juga terlihat dari pertumbuhan realisasi investasi langsung pada Triwulan III 2021 sebesar 7,2% (year on year). Realisasi investasi langsung yang berasal dari Penanamana Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) tersebut meningkat dari Rp22,3 triliun pada Triwulan III 2020 menjadi Rp23,9 triliun per Triwulan III 2021. Hal yang mengejutkan bahwa realisasi investasi PMDN di DKI Jakarta tumbuh melesat hingga 62,12% dari Rp8,9 triliun pada Triwulan III 2020 menjadi Rp14,38 triliun per Triwulan III 2021. Dari sisi jumlah proyek pun realisasi PMDN meningkat tajam hingga 219% dari 5.498 proyek (Trw III 2020) menjadi 17.582 proyek (Trw III 2021). Begitupun dengan jumlah proyek PMA yang tumbuh 17,4% dari 4.472 proyek (Trw III 2020) menjadi 5.250 (Trw III 2021).

 

Dengan realisasi investasi sepanjang Januari - September 2021 tersebut maka sumbangan investasi langsung di DKI Jakarta terhadap total investasi nasional mencapai 11%. Dalam rangka menangkap momentum pemulihan investasi  di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan upaya pelaksanaan kemudahan berusaha dan peningkatan pelayanan perizinan dan non-perizinan. Pemprov DKI Jakarta juga sudah mengimplementasikan Online Single Submission (OSS) dalam pelayanan perizinan yang diintegrasikan dengan sistem JakEvo. Dukungan dalam peningkatan pelayanan investasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat investasi di DKI Jakarta.

 

Tidak hanya mendorong minat investasi dari pihak swasta, geliat investasi di DKI Jakarta juga didukung oleh kegiatan investasi yang mencakup berbagai proyek infrastruktur, seperti National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), enam ruas jalan tol dalam kota, Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), pembangunan fisik lain seperti Jakarta International Stadium (JIS), serta revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Bahkan, untuk mengoptimalkan kemitraan antara Pemerintah dengan Swasta, beberapa proyek infrastruktur di DKI Jakarta juga menerapkan skema Kerjasama Pemerintah Daerah dan Badan Usaha (KPDBU) dimana pada tahun 2021 ini tercatat ada 5 proyek yang dikerjakan dengan skema KPDBU antara lain Jakarta Sewerage System Zona 8, LRT Pulo Gebang - Joglo, Rusunawa Daan Mogot KM 18, SPAM Ir.H Djuanda/Jatiluhur II, dan Pengelolaan Jasa Digital Jakarta Smart City.

 

Upaya lain yang telah dilakukan Pemprov DKI Jakarta dalam menggenjot investasi yaitu optimalisasi Jakarta Investment Center (JIC) yang merupakan Lembaga yang didirikan untuk memfasilitasi investor agar tertarik berinvestasi di Jakarta dan dapat dilakukan dengan mudah. Peran JIC dalam peningkatan investasi di Jakarta sangat besar mengingat JIC sebagai corong utama dalam mempromosikan proyek proyek dan wajah DKI Jakarta. Selain itu, JIC juga berfungsi dalam mengoordinasikan instansi teknis dalam mempersiapkan profil proyek memimpin koordinasi dengan instansi terkait lainnya dan kemudian ditindaklanjuti dengan promosi/marketing dan fasilitasi. Dengan berbagai kebijakan dan instrumen yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta tersebut diharapkan dapat terus memperlihatkan wujud kota Jakarta yang ramah terhadap investasi yang berkualitas.

Share this Post: