Berita SDGs

Perlindungan Anak di Ranah Daring - Mendengar Suara Anak dan Orangtua Bersama Pemangku Kepentingan

Yuli Istanto

Tenaga Ahli Desain Grafis Sekretariat SDGs Provinsi DKI Jakarta


SDGsJakarta“…minimnya pendampingan anak dari orangtuanya di ranah daring, dimana orangtua justru memberikan gadget pada anak- anaknya agar mereka tidak mengganggu, atau agar mereka diam tenang. Masalah ini banyak terjadi, karena orangtua tidak menyadari adanya konten-konten negatif di ranah daring", Ibu Dwi, orangtua, peserta FGD (Forum Group Discussion).

Sarasehan yang di adakan Yayasan Sejiwa ini selain menghadirkan narasumber dari berbagai pelaku kepentingan untuk perkembangan dan perlindungan anak diranah daring juga orang tua serta anak-anak sekolah. Isu-isu rentan yang mengemuka disarasehan ini adalah isu-isu yang terkait dengan asusila, seperti pornografi serta eksploitasi seksual terhadap anak. Beberapa temuan kasus dilapangan telah menunjukkan bahwa isu-isu rentan ini telah berdampak terhadap anak-anak sebagai korban, diantaranya:

·         Pada bulan Oktober 2019 di Sulawesi Utara ada lima pasangan anak berusia 7 tahun, melakukan hubungan seksual bersama-sama, karena mereka mengikuti apa yang mereka lihat pada gadget mereka.

·         Pada bulan Juli 2019 di Jakarta Barat ada seorang predator anak berusia 27 tahun telah melakukan online grooming dengan cara mendekati anak lewat online games sehingga 10 anak telah menjadi korbannya.

·         Pada bulan Agustus 2018, BKKBN bersama UNESCO menemukan 96,7 % murid di Jakarta Pusat dan Pandeglang telah terpapar pornografi, dan 3,7 % telah kecanduan.

·         Pada tahun 2018 ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking Of Children For Sexual Purposes Indonesia menemukan 150 kasus terkait anak, dimana 15 kasus merupakan prostitusi online, dan 3 kasus adalah online grooming, dan 42 kasus merupakan pornografi online. Total jumlah anak-anak yang dieksploitasi secara seksual sebanyak 379.

Beberapa narasumber yang di wakili oleh anak-anak sekolah menjadi bukti bahwa kasus online grooming adalah awal mula predator memulai aksinya. Perkenalan di media sosial dengan akun anonim dan profile picture yang menarik menjadi cara-cara untuk melakukan pendekatan yang dilakukan oleh para predator. Beberapa media sosial yang sering dipakai oleh predator dalam mencari korban adalah antara lain Instagram dan game online. Sebagian besar para pelajar ini mengenal gadget dari mulai kecil karena pola asuh dari orangtua mereka. Bahkan seperti diutarakan oleh Raihan salah satu pelajar dari SMAN 3 Bekasi, “Saya kelas 2 SD sudah kecanduan game”. Raihan beruntung bisa keluar dari kecanduan setelah di sekolah menengah, tidak dengan beberapa teman sekolahnya yang sampai sekarang masih kecanduan. Selain efeknya kecanduan, pengenalan gadget sejak dini juga mengganggu kesehatan seperti yang diutarakan oleh Zikra, salah satu anak SD di daerah Cilincing, “Adikku matanya suka sering berair sendiri karena terlalu sering melihat Youtube”.

Beda dengan pengalaman Emil, anak SMP Lab School, “Aku pernah ada yang nanya, orang dewasa nggak kenal gitu, nanya sekolah dimana, tinggal dimana dan lain-lain”. Apa yang diceritakan oleh Emil ini adalah salah satu bentuk online grooming di ranah daring. Tapi ada yang lebih menarik lagi dari hal lain yang diceritakannya “teman-teman saya suka melihat gambar atau video porno ramai-ramai dan biasanya mereka menonton di toilet sekolah”.

Sementara Narasumber dari Dirjen Aplikasi Informatika, Bapak Semuel Abrijani Pangerapan, memaparkan bahwa di Indonesia ada UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang mengatur aktifitas masyarakat di internet. Beberapa persoalan di ranah internet yang sering terjadi adalah masalah: Fake news, Pornografi, Pengancaman, Pencurian data Elektronik, Radikalisasi dan Perjundian. Terkait Pornografi, saat ini sedang dijajaki inisiatif perlindungan Anak melalui SIM Card Khusus Anak berbasiskan Whitelist kepada Operator Telekomunikasi Indonesia. Dengan adanya SIM Card tersebut, segala konten di Internet yang bisa diakses hanyalah konten yang sudah sesuai dengan usia perkembangan anak.

Menurut data dari UNICEF, Kekerasan anak secara Online adalah Fenomena Global dengan Lebih dari 175.000 anak mengakses Internet untuk kali pertama setiap harinya. Tumbuh kembang anak dengan akses online telah memunculkan berbagai macam keuntungan dan sekaligus bahayanya.

Praktisi Teknologi Digital, Bapak Tony Seno, , menyampaikan: "Anak anak Gen Z beradaptasi dengan teknologi digital jauh lebih cepat dari orangtuanya. Namun mereka tetap anak-anak yang belum memiliki pengalaman hidup yang cukup, sehingga mereka sangat rentan terhadap kejahatan-kejahatan di internet. Adalah merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai orangtua, pemerintah, bisnis ataupun lembaga non-profit untuk saling bekerjasama melindungi anak-anak ini, sampai anak ini cukup dewasa untuk bisa membedakan yang baik dan buruk di dunia digital".

Bapak Harris Iskandar, Dirjen Paud Dikmas, Kemendikbud, menyampaikan bahwa: "Keluarga merupakan salah satu pilar dalam tri sentra pendidikan (rumah, sekolah dan masyarakat) yang berperan penting dalam membentuk generasi emas yang berkarakter dan berbudaya prestasi di masa yang akan datang. Saat ini peran keluarga semakin penting. Terlebih lagi karena waktu kebersamaan antara orang tua dan anak di rumah kian berkurang, tergantikan oleh kehadiran teknologi informasi. Selain itu dengan semakin tingginya kesibukan orang tua.

Sebagai penutup sarasehan ini, Diena Haryana, Pendiri SEJIWA, mengekspresikan harapannya: "Harapan terbesar untuk solusi dari kerentanan anak di ranah daring ini adalah di tangan keluarga. Diperlukan pendampingan orangtua terhadap anak ketika mereka ada di ranah online, serta kedekatan keluarga yang membuat anak tidak perlu mencari pelarian di internet. Jangan terjadi pembiaran anak di internet. Dan bebaskan ruang tidur dari penggunaan gadget, sehingga istirahat anak cukup, dan anak dapat termonitor dengan baik bila menggunakan gadget di ruang yang lebih terbuka". (yi)

 

Share this Post: